Monday, February 11, 2013

BATIK PARANG

Gambar di atas ini memperlihatkan busana SISKS Pakoe Boewono X beserta permaisuri GKR Mas yang memakai batik bermotif parang rusak.Motif ini menjadi kegemaran para Raja Jawa,di Surakarta maupun di Jogjakarta,sehingga motif parang rusak juga menjadi larangan bagi orang kebanyakan.Aturan ini sekarang sudah tidak berlaku lagi bagi lingkungan di luar istana/kraton.Nama-nama jenis parang rusak ini dibedakan berdasarkan ukuran polanya.Parang rusak dengan ukuran polanya yang terkecil dinamakan Parang Rusak Klithik,yang ukuran sedang dinamakan Parang Gendreh dan yang paling besar ukurannya namanya Parang Barong.


Foto: Gambar di atas ini memperlihatkan busana SISKS Pakoe Boewono X beserta permaisuri GKR Mas yang memakai batik bermotif parang rusak.Motif ini menjadi kegemaran para Raja Jawa,di Surakarta maupun di Jogjakarta,sehingga motif parang rusak juga menjadi larangan bagi orang kebanyakan.Aturan ini sekarang sudah tidak berlaku lagi bagi lingkungan di luar istana/kraton.Nama-nama jenis parang rusak ini dibedakan berdasarkan ukuran polanya.Parang rusak dengan ukuran polanya yang terkecil dinamakan Parang Rusak Klithik,yang ukuran sedang dinamakan Parang Gendreh dan yang paling besar ukurannya namanya Parang Barong.. 
 
Foto: Motif Parang Rusak Barong ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Pada zaman dulu, motif barong hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.

Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamor, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya, dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok batik larangan (batik yang tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata).
Foto: Batik Motif Parang Barong Bintang Leider gagrak Ngayogyakarta...
Foto: Batik motif Parang Barong gagrak Ngayogyakarta...

Wednesday, May 23, 2012

Motif Lurik Lasem.

Motif Lurik, memberikan makna adanya suatu harapan agar si bayi kuat seperti kain lurik yang tidak mudah sobek.
Makna & Kegunaan Motif Batik







Lurik Kembang Tela
 
Lurik Kembang Bayem
 

Batik motif Wirasat Yogya dan Solo.


- Motif Sido Wirasat.
Dalam motif ...ini selalu terdapat komdinasi kombinasi motif truntum di dalamnya karena melambangkan orang tua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumahtangga. Wirasat artinya lambang atau simbol. Dalam kain batik wirasat terdapat motif-motif corak truntum, corak sidomukti, corak sidoluhur, dan corak Sidomulyo.

Kain batik wirasat biasa dikenakan oleh orang tua pengantin putri. Hal ini merupakan harapan agar keluarga pengantin dan mempelai berdua dapat hidup rukun. Motif Wirasat merupakan pengembangan dari motif Sida Mulya, yang isinya terdiri dari bermacam–macam motif batik, antara lain motif Cakar Ayam, Truntum, Sida Luhur, dan Sida Mulya. Makna motif ini, supaya dikabulkan segala permohonannya, mencapai kedudukan tinggi, terpenuhi segala materi, juga permohonan petunjuk dari Tuhan saat mendapat kegelapan agar cepat diberi jalan yang terang.
Lihat Selengkapnya
Makna & Kegunaan Motif Batik

Warna dan Motif Batik

Pada awalnya motif-motif batik juga diciptakan  menurut fungsi dari para pemakainya dalam kehidupan sehari-harinya. Jadi. sangatlah mungkin kalau dari suatu motif akan dapat dikenali dari keluarga mana si pemakainya berasal.

Misalnya motif-motif Parang Barong yang pada awalnya hanya digunakan oleh para Raja. Motif Parang sesungguhnya menggambarkan senjata, kekuasaan. Selaras dengan makna yang ada dalam motif Parang Barong, maka Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.

Motif Parang Barong dalam perkembangan selanjutnya juga dkenakan oleh para wanita. (foto 1)

Atau kain batik yang digunakan dalam upacara pernikahan adat Jawa saat ini, seperti motif kain batik: Ukel,  Semen Rama;  Semen Raja, pada awalnya  juga hanya dikenakan oleh keluarga kesultanan. Hanya digunakan dalam kesempatan tertentu saja.

Motif Ukel, motif yang penuh dengan cecek (foto 2)

Dalam perkembangan selanjutnya pembatasan itu menjadi pudar. Banyak dari keluarga orang yang berstatus tinggi dan orang berpunya di Indonesia juga ingin meniru apa yang terjadi dalam keluarga kesultanan. Dan pembatasan yang pada awalnya begitu ketat, tidak dapat mengatasi masuknya pengaruh luar yang begitu gencar. Dan seperti yang kita lihat saat ini, banyak upacara pernikahan adat Jawa dalam  masyarakat Indonesia yang menggunakan upacara pernikahan adat keraton  dengan perlengkapan dan tahapan upacara yang cukup lengkap.

Bahkan  beberapa motif batik tradisional yang biasanya hanya dipakai oleh keluarga keraton baik dari keraton Yogya  maupun dari keraton Surakarta lambat laun juga sudah mulai bisa dimiliki oleh “setiap” orang yang ingin memilikinya. Walaupun tidak dengan  kwaliteit seperti aslinya.

Tradisi Kejawen, yang mengajarkan falsafah Jawa juga turut  memberikan banyak masukan dalam penciptaan motif-motif batik. Falsafah Jawa yang berusaha antara lain untuk meraih ke”besaran” dan kemuliaan dalam hidup ini, dapat mempermudah penciptaan motif kain batik. Hal ini bisa dimengerti karena untuk mencapai kebesaran dan kemuliaan yang selalu dirindukan oleh manusia, orang percaya bahwa hal ini akan  bisa dicapai dengan olah jati diri. Misalnya melalui jalan meditasi dan upacara mistik.

Buah dari laku meditasi yang bisa dipetik adalah akan  dicapainya ketentraman batin dan semelehnya hati seseorang serta  keheningan suasana di sekitarnya. Ini semua  merupakan attitude yang pas dalam pemilihan dan penciptaan suatu motif batik. Penyempurnaan motif batik agar sesuai dengan makna yang diharapkan oleh pemikinya kadang harus disertai upacara mistik. Upacara ini bisa dilakukan misalnya dengan mempersembahkan “offer” dan pemanjatan doa. Hal ini biasanya dilakukan dengan bimbingan para “Guru” dalam bidang Kejawen, sehingga nilai sakral dan magis bisa tersirat dalam motif yang ada dan terlihat ketika dikenakan oleh pemiliknya.

Berapa lama dan laku mana yang harus dikerjakan seseorang sebelum ditemukan motifnya, sangat bergantung pada si pembatik dan si calon pemakainya sendiri. Jadi dalam hal ini setidaknya harus ada kerja sama di antara keduanya.

Motif dan warna dalam batik, pada awalnya memiliki nilai yang simbolik. Pemilihan warna dalam motif batik dapat memberikan informasi tentang perasaan dan  harapan  si pemakainya, karena dia yang memilih motif dan warnanya. Tentang peran si pembatiknya  biasanya menjadi lumer menyatu dengan perasaan dan harapan si pemakainya dan hal ini diwujudkan dalam bentuk/lukisan motif dalam batik itu.

Patroon motif batik klasik pada awalnya hanya ada dalam “kepala” si pembatik. Motif-motif  dalam batik klasik sering kali diungkapkan dalam bentuk yang abstrak. Daya khayal si pembatik dalam menggambarkan sebuah motif sangat mempengaruhi hasil akhir motif. Dan karena itu pula maka hampir tidak pernah terjadi ada  dua kain panjang batik  dengan satu  motif batik, yang hasilnya sama dan serupa.

Warna dalam motif batik banyak mengacu pada warna yang bisa memberikan/menimbulkan informasi berbagai rasa bagi si pemakainya dan yang melihatnya. Warna dasar motif batik klasik Jawa pada awalnya dapat kita temukan sebagai berikut:

1. Warna coklat
 Warna ini dapat membangkitkan rasa kerendahan diri, kesederhanaan dan mem”bumi”, kehangatan, bagi pemakainya.

Parang Penggede. Bunga yang sedang merekah dan kupu besar yang indah, melambangkan  “kebesaran” pemilik / pemakainya (foto 3)

Dalam pemakaiannya warna coklat terutama, sering kita temukan dalam motif-motif semen (lihat foto 2). Dalam motif parang, juga digunakan warna coklat (lihat foto3).

Motif Semen merupakan salah satu motif indah yang sering kali dipenuhi dengan makna dan arti yang dapat kita temukan dalam Falsafah Jawa. Suatu motif yang pada saat ini juga hanya dimiliki oleh pemilik dompet tebal. Hal ini terjadi karena untuk menciptakan motif semen biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Biasanya motif ini dilukiskan dua kali, baik dari luar dan maupun dari dalam. Juga pengisian cecek yang harus dilukiskan satu demi satu. Sehingga pembuatan satu kain panjang bisa memakan waktu  lebih dari 6 bulan.

 2. Warna biru tua
Rasa ketenangan, effekt kelembutan, keichlasan dan rasa  kesetiaan biasanya dapat ditunjukkan melalui pemakaian warna ini. Warna biru biasanya dapat kita temukan dalam motif batik klassik dari Yogyakarta. Lihat dalam motif Modang di bawah ini. Sebuah motif yang di sekeliling kain jariknya dilukiskan bentuk-bentuk parang tuding. Dalam kain panjang ini didasari dengan warna biru. Di dalamnya diisi dengan motif ganggong ranthé, sejenis bunga.

Motif Modang dengan isen ganggong ranthe (foto 4)

 3. Warna putih
Warna putih yang juga muncul dalam motif batik Yogyakartan, menunjukkan rasa ketidakbersalahan, kesucian, ketentraman hati dan keberanian serta sifat pemaaf si pemakainya. Terkait makna tersebut sangatlah dapat dimengerti mengapa motif Sido Asih ini dikenakan dalam upacara pernikahan adat. Menilik dari pemakaian warna putih tersirat harapan bahwa calon pengantinnya di kemudian hari akan selalu dilimpahi dengan kasih dan sayang dalam kehidupan berumah tangganya.

Sido Asih / Semen Calo / Gunung Sari latar pethak. (foto 5)

4. Warna kehitaman
 Dari warna-warna yang terdapat dalam motif batik juga terdapat warna yang kehitam-hitaman. Sesungguhnya warna hitam yang dimaksudkan merupakan suatu warna biru yang sangat tua. Sehingga tampak seperti hitam. Suatu warna yang seringkali memberikan gambaran yang negative.

Tetapi dalam dunia perbatikan orang mengambil segi positif dari yang biasanya bermakna negative. Jadi warna hitam dalam batik melambangkan antara lain  suatu kewibawaan, keberanian, kekuatan, ketenangan, percaya diri dan dominasi. Dalam motif itu diperlihatkan berbagai jenis binatang, suatu keaneka ragaman dalam kehidupan yang toch pada akhirnya dapat saling bertenggang rasa.

Motif batik Alas-alasan latar irengan (foto 6)

Jadi bila seseorang mengenakan motif batik tertentu itu bukan saja berarti bahwa yang bersangkutan  hanya ingin memperlihatkan betapa indahnya motif batikannya tetapi juga sekaligus ingin dan dapat memperlihatkan fungsi dan kedudukannya dalam masyarakat yang berlaku. Juga melalui motif batik yang dikenakannya akan tersirat harapan dan makna ungkapan perasaannya. Dan dengan mengenakan motif tertentu si pemakai juga ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya/ pemakainya.

Juga dari pemilihan pemberian nama tentang nama motif batik sangat berkaitan erat dengan suatu harapan dan tujuan hidup dari pembuatnya. Misalnya: Motif Lintang Trenggono; Motif  Gringsing Buketan

Lintang Trenggono/Bintang yang berkilauan (foto 7)

Dalam Motif Lintang Trenggono dilukiskan kehadiran binatang-binatang malam yang bermunculan seiring dengan  gemerlapannya cahaya  bintang-bintang di angkasa raya. Dari si pemakainya diharapkan dapat menggambarkan betapa  puas dan bahagianya (terbebas dari beban berat) hati si pemakai dalam menikmati kehidupan malam yang penuh dengan gemerlapannya bintang di angkasa raya. Motif ini biasanya dikenakan dalam resepsi-resepsi.

Motif Gringsing Buketan (foto 8)

Dalam motif gringsing digambarkan sisik ikan yang menjadi latar belakang buketan (bouquet), ikatan bunga yang indah. Setiap sisik ikan dilukiskan dengan warna putih dengan garis pembatas warna soga (coklat) dan  diisi dengan cecek. Si pemakai mengharapkan keindahan, keharuman dan kebesaran bagaikan bunga dalam motif yang juga disertai dengan kekayaan yang tak terhitungkan, seperti jumlah sisik ikan yang ada dalam motif itu.

Dua motif di atas saya memberikan gambaran betapa luasnya makna yang terkandung dalam motif batik klassik Jawa.

Saya kira setiap orang yang mengerti dan mendalami makna dan arti falsafah Kejawen dalam motif batik klassik Jawa juga mengharapkan bahwa makna yang tersirat dalam motif akan menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk saya, paling tidak sudah saya mulai dengan memiliki dulu kain jariknya. . Bagaimana dengan pembaca Baltyra?

Bila kita memperhatikan motif-motif batik klassik Jawa,  tampak bahwa setiap motif biasanya hanya dikenakan dalam kesempatan yang tertentu. Untuk mengutarakan pertalian antara motif dan dalam kesempatan apa motif batik itu dikenakan akan saya tuliskan dalam bagian terakhir, minggu depan.

MOTIF KEMBANG KANTIL


Foto 1: Batik motif Kembang Kanthil latar pethak


- Batik motif Kembang Kanthil....
Nama Kembang Kanthil mengandung arti: Kembang = bunga ; Kanthil = ikut, nempel, lengket.

Sebuah kain batik dengan motif Kembang Kanthil /Kenanga latar pethak. Terlukiskan bunga Kanthil/Kenanga yang saling bergandengan/ berkaitan satu dengan yang lainnya. Banyak sekali «cecek» halus yang menjadi isen dalam «bloemblad»/ lidah/ daun bunga.

Kain batik dengan motif Kembang Kanthil dilukiskan dalam alur seperti kain batik motif Parang. Miring, dan paralel dalam posisi plus minus 45 derajat. Dalam pemakaiannya arah Kembang Kanthil ini harus selalu merunduk menghadap ke bawah, seperti yang terlihat dalam foto . Hal ini juga bermakna bahwa walaupun si pemakai sewangi dan seindah seperti bermekarannya bunga Kanthil/Kenanga, tetapi dia harus tetap merunduk /sederhana dalam kehidupannya sehari-hari.

Ini juga memberikan makna bahwa pemakainya seorang yang rendah hati dan mengenal etika pergaulan. Makna lain dari batik motif ini adalah agar pemakainya dalam pergaulan disenangi dan disayangi oleh sesamanya karena kesederhanaannya
Makna & Kegunaan Motif Batik